Jakarta, 29 September 2026 –
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kekeringan masih melanda sejumlah wilayah Jawa Tengah seiring berlangsungnya musim kemarau yang diperparah kondisi El Nino. Menurunnya cadangan air tanah dan debit sejumlah sumber air membuat masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih. Berdasarkan perkembangan terbaru, Kabupaten Pati, Sragen, dan Pemalang termasuk daerah yang menghadapi dampak kekeringan. Ribuan warga membutuhkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di Kabupaten Pati, kekeringan dilaporkan berdampak terhadap 3.896 jiwa. Sementara di Kabupaten Sragen, jumlah warga terdampak mencapai 7.224 jiwa. Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Pemalang dengan kekeringan menjangkau 23 desa yang tersebar di sembilan kecamatan. Pemerintah daerah bersama BPBD terus melakukan distribusi air bersih menuju wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air.
Krisis air yang terjadi pada akhir September merupakan kelanjutan dari kekeringan yang telah berlangsung selama beberapa bulan di Jawa Tengah. BNPB sebelumnya mencatat delapan kabupaten mengalami kekeringan sejak awal Juli 2026, yakni Pemalang, Grobogan, Temanggung, Semarang, Pekalongan, Cilacap, Klaten, dan Purbalingga. Hingga pertengahan September, jumlah warga terdampak di delapan kabupaten tersebut mencapai 33.240 kepala keluarga. Pemalang menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbesar, yakni 10.764 KK.
Selain Pemalang, BNPB mencatat 5.639 KK terdampak di Cilacap, 5.440 KK di Klaten, 3.587 KK di Pekalongan, dan 3.287 KK di Purbalingga. Sementara Grobogan mencatat 2.313 KK, Kabupaten Semarang 1.269 KK, serta Temanggung 941 KK. Kondisi tersebut membuat kebutuhan distribusi air bersih tetap tinggi selama periode kemarau. Sejumlah BPBD mengerahkan mobil tangki untuk memasok air langsung ke permukiman warga.
Di Pemalang, misalnya, distribusi air bersih telah dilakukan menggunakan mobil tangki dengan kapasitas 4.000 hingga 5.000 liter. BNPB mencatat penyaluran sebanyak 109.000 liter dilakukan pada 18 September melalui BPBD dan unsur pendukung lainnya. Grobogan pada periode yang sama memperoleh distribusi sekitar 58.000 liter, sedangkan Pekalongan menerima 46.000 liter untuk sejumlah desa terdampak. Bantuan air juga terus disalurkan ke Cilacap, Klaten, Purbalingga, Kabupaten Semarang, dan Temanggung.
Penanganan kekeringan tidak hanya diarahkan pada distribusi air bersih dalam jangka pendek. Pemerintah daerah juga melakukan pemetaan wilayah rawan, menyiapkan sumber air alternatif, serta memperkuat koordinasi lintas instansi untuk menghadapi kemungkinan kemarau berkepanjangan. Data sebelumnya menunjukkan dampak kekeringan di Jawa Tengah telah meluas sejak pertengahan tahun, sehingga kebutuhan mitigasi berbeda pada setiap wilayah. Ketersediaan tempat penampungan air bahkan menjadi salah satu kendala yang ditemukan dalam proses distribusi di lapangan.
BNPB bersama BPBD daerah terus memantau perkembangan kekeringan dan kebutuhan masyarakat, terutama di daerah yang sumber airnya mengalami penyusutan signifikan. Distribusi air bersih menjadi langkah darurat untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama sumber air belum kembali normal. Pemerintah daerah juga perlu menjaga kesiapan armada dan stok air apabila wilayah terdampak bertambah. Pemantauan kondisi cuaca serta ketersediaan air akan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan berikutnya selama musim kemarau 2026.