Jakarta, 1 September 2026 – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026). Berdasarkan data perdagangan, rupiah turun 22 poin atau sekitar 0,12 persen ke level Rp17.744 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.722. Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah sempat bergerak menguat pada awal perdagangan. Pergerakan mata uang Garuda masih mendapat tekanan dari sentimen global, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Tekanan dari Timur Tengah kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat. Ancaman serangan lanjutan serta belum adanya perkembangan berarti terkait upaya pembukaan kembali Selat Hormuz membuat investor kembali meningkatkan kewaspadaan. Selat tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi memengaruhi pasokan dan harga minyak dunia. Kondisi geopolitik seperti ini biasanya mendorong investor meningkatkan kepemilikan aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Penguatan permintaan terhadap dolar kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan The Fed juga menjadi perhatian utama pasar valuta asing. Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole dinilai bernada hawkish sehingga memunculkan kembali ekspektasi bahwa bank sentral AS dapat menaikkan suku bunga pada September. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada September diperkirakan sekitar 66 persen, meningkat dibandingkan sekitar 38 persen sebelum pidato tersebut. Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi dapat membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah.
Sentimen dari dalam negeri turut memberikan pengaruh terhadap pergerakan rupiah. Data terbaru menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 turun ke level 49,8 dari 50,2 pada Juli. Posisi di bawah level 50 menunjukkan sektor manufaktur kembali berada dalam zona kontraksi setelah sebelumnya mencatatkan ekspansi tipis. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian pelaku pasar karena aktivitas manufaktur merupakan salah satu indikator yang menggambarkan kondisi perekonomian domestik. Meski demikian, Indonesia masih memiliki sejumlah sentimen positif, termasuk inflasi Agustus yang tercatat 3,19 persen secara tahunan dan neraca perdagangan Juli yang kembali mencatat surplus.
Pergerakan rupiah pada awal September juga perlu dilihat dalam konteks kinerja mata uang Garuda sepanjang Agustus. Rupiah sempat menguat terhadap sejumlah mata uang utama selama bulan tersebut, tetapi secara kumulatif sejak awal tahun masih berada dalam tekanan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan yang terjadi pada periode tertentu belum sepenuhnya menghilangkan tekanan eksternal yang membayangi rupiah. Pergerakan indeks dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, kebijakan The Fed, serta perkembangan geopolitik masih menjadi faktor penting yang dapat menentukan arah rupiah.
Di pasar global, kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian ketika ketegangan di Timur Tengah meningkat. Kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi dapat meningkatkan harga minyak dan berpengaruh terhadap ekspektasi inflasi berbagai negara. Bagi Indonesia, perubahan harga minyak dunia dapat memengaruhi kebutuhan impor energi serta kondisi neraca eksternal. Jika tekanan tersebut berlangsung lama, pasar dapat kembali memperhitungkan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan nilai tukar. Karena itu, perkembangan konflik di Timur Tengah tetap menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati dalam perdagangan rupiah berikutnya.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan kebijakan The Fed sekaligus berbagai data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi keputusan suku bunga. Data seperti PMI Manufaktur dan JOLTS juga menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian dan pasar tenaga kerja AS. Dari sisi domestik, perkembangan aktivitas manufaktur, inflasi, neraca perdagangan, serta kebijakan Bank Indonesia akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas rupiah. Dengan tekanan global yang masih tinggi, pergerakan rupiah berpotensi tetap volatil dalam perdagangan mendatang. Namun, kondisi fundamental domestik dan langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas akan menjadi faktor penting untuk menentukan seberapa besar tekanan tersebut dapat diredam.