Damaskus, 8 November 2026 – Seorang sumber diplomatik Suriah membantah laporan yang menyebutkan negaranya telah mengirim pasukan militer ke Yaman untuk membantu Arab Saudi menghadapi kelompok Houthi. Bantahan tersebut disampaikan melalui kantor berita pemerintah Suriah, SANA, pada Sabtu (7/11/2026). Pihak Suriah menegaskan bahwa kerja sama pertahanan dengan Arab Saudi saat ini berfokus pada pelatihan militer, konsultasi, dan pertukaran keahlian. Pernyataan tersebut muncul setelah beredar laporan mengenai kemungkinan keterlibatan tentara Suriah dalam konflik Yaman yang kembali memanas.
Sumber diplomatik tersebut menjelaskan bahwa kesepakatan militer antara Damaskus dan Riyadh bertujuan meningkatkan kemampuan serta profesionalisme angkatan bersenjata Suriah. Program kerja sama mencakup pelatihan personel, pengembangan kapasitas pertahanan, dan pertukaran pengalaman militer kedua negara. Delegasi Arab Saudi dijadwalkan memulai kunjungan koordinasi ke Suriah pada Desember mendatang. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat pelaksanaan kesepakatan pertahanan yang telah ditandatangani.
Kesepakatan kerja sama militer Suriah dan Arab Saudi ditandatangani pada Rabu (4/11/2026) ketika Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa melakukan kunjungan ke Riyadh. Dalam kunjungan tersebut, Al-Sharaa juga bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk membahas hubungan bilateral. Kerja sama itu menjadi bagian dari upaya kedua negara memperkuat hubungan keamanan dan pertahanan. Pemerintah Suriah membuka kemungkinan pengembangan kerja sama menjadi perjanjian pertahanan bersama apabila sesuai dengan kepentingan kedua pihak.
Bantahan Damaskus muncul setelah sejumlah pejabat Yaman menyampaikan klaim mengenai rencana pengerahan ribuan tentara Suriah. Salah satu sumber dari Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman menyebut sekitar 3.000 personel Suriah direncanakan bergabung dalam operasi militer menghadapi kelompok Houthi. Sumber lainnya bahkan mengklaim sebagian personel telah berada di kawasan perbatasan. Namun, informasi tersebut bertentangan dengan keterangan diplomatik Suriah yang menyatakan belum ada pengerahan pasukan tempur ke Yaman.
Di sisi lain, laporan mengenai keberadaan sejumlah personel militer Suriah di Arab Saudi memiliki konteks berbeda. Sejumlah sumber militer menyebut personel tersebut menjalankan tugas sebagai penasihat dan pelatih bagi pasukan Saudi serta unit Yaman yang berada di wilayah kerajaan. Kehadiran tenaga pelatih tidak secara langsung membuktikan keterlibatan Suriah dalam operasi tempur di Yaman. Pemerintah Suriah menekankan bahwa prioritas nasional saat ini adalah memperkuat keamanan dalam negeri, melaksanakan rekonstruksi, dan memulihkan perekonomian setelah konflik berkepanjangan.
Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi kembali meningkat setelah serangkaian serangan yang mengancam keamanan kawasan. Situasi tersebut mendorong Riyadh memperkuat koordinasi pertahanan dengan sejumlah negara mitra. Suriah menjadi salah satu negara yang menjalin hubungan keamanan lebih erat dengan Arab Saudi setelah perubahan pemerintahan di Damaskus pada akhir 2024. Meski demikian, kemungkinan keterlibatan langsung Suriah dalam konflik Yaman masih menjadi persoalan sensitif karena dapat memperluas ketegangan regional.
Pemerintah Suriah menegaskan bahwa kerja sama dengan Arab Saudi tetap diarahkan pada peningkatan kemampuan pertahanan dan pertukaran keahlian militer. Kemungkinan pembentukan perjanjian pertahanan bersama atau keikutsertaan dalam aliansi keamanan regional masih bergantung pada perkembangan hubungan kedua negara. Bantahan mengenai pengiriman pasukan ke Yaman diharapkan dapat memperjelas posisi Damaskus di tengah berbagai laporan yang saling bertentangan. Sementara itu, perkembangan konflik Yaman tetap menjadi perhatian internasional karena berpotensi memengaruhi keamanan Timur Tengah. Upaya diplomatik dan komunikasi antarpemerintah dinilai penting untuk mencegah perluasan konflik yang dapat memperburuk kondisi kemanusiaan di kawasan tersebut.