Jakarta, 9 September 2026 – Dokter sekaligus figur publik Tirta Mandira Hudhi atau yang lebih dikenal sebagai Dokter Tirta mengungkap rencana kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Setelah menyelesaikan pendidikan S2 sebelumnya, Tirta masih memiliki keinginan memperdalam bidang yang selama ini dekat dengan aktivitas profesional dan minat pribadinya, yakni olahraga. Ia berencana mengambil program magister yang berkaitan dengan sports science atau ilmu keolahragaan untuk memperkuat pemahaman mengenai performa, kebugaran, dan kesehatan atlet. Rencana tersebut juga sejalan dengan aktivitasnya yang dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak bersinggungan dengan dunia olahraga. Bagi Tirta, pendidikan lanjutan bukan semata mengejar tambahan gelar akademik, tetapi menjadi cara memperkuat kompetensi yang dapat diterapkan dalam pekerjaan.
Keinginan menempuh pendidikan S2 lagi muncul setelah Tirta melihat perkembangan dunia olahraga yang semakin membutuhkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan. Menurutnya, performa atlet tidak hanya ditentukan kemampuan teknis dan latihan rutin, tetapi juga dipengaruhi kondisi fisik, nutrisi, pemulihan, pola tidur, hingga pengelolaan beban latihan. Berbagai aspek tersebut membutuhkan pemahaman ilmiah agar program yang diberikan kepada atlet tidak hanya berdasarkan pengalaman. Latar belakang pendidikan kedokteran yang dimilikinya menjadi modal untuk mempelajari bidang tersebut secara lebih mendalam. Tirta ingin menggabungkan perspektif medis dengan ilmu performa olahraga agar mempunyai pemahaman yang lebih komprehensif.
Rencana pendidikan tersebut juga berkaitan dengan semakin besarnya perhatian Tirta terhadap olahraga lari. Ia dikenal aktif mengikuti kegiatan olahraga dan kerap membagikan edukasi mengenai latihan, kebugaran, serta kesehatan melalui media sosial. Interaksi dengan komunitas olahraga membuatnya melihat langsung berbagai persoalan yang dialami masyarakat ketika berlatih. Mulai dari cedera, program latihan yang tidak sesuai kemampuan, kurangnya pemulihan, hingga kesalahan memahami kebutuhan nutrisi menjadi persoalan yang sering ditemukan. Kondisi tersebut mendorong Tirta untuk meningkatkan kapasitas akademiknya agar informasi yang disampaikan mempunyai landasan keilmuan semakin kuat.
Tirta sebelumnya telah menempuh pendidikan magister di bidang administrasi rumah sakit. Program tersebut memberikannya perspektif mengenai pengelolaan fasilitas kesehatan, manajemen pelayanan, hingga berbagai aspek organisasi dalam industri kesehatan. Namun, bidang olahraga mempunyai karakter yang berbeda dan lebih dekat dengan fisiologi tubuh serta performa manusia. Karena itu, ia melihat pendidikan magister kedua dapat melengkapi ilmu yang telah dimilikinya. Kombinasi pendidikan kedokteran, manajemen kesehatan, dan ilmu olahraga diharapkan memberikan perspektif yang lebih luas dalam aktivitas profesionalnya.
Keputusan kembali menjadi mahasiswa tentu membutuhkan persiapan karena Tirta memiliki jadwal pekerjaan dan kegiatan yang cukup padat. Selain menjalankan profesinya, ia aktif membuat konten edukasi, mengikuti kegiatan olahraga, menjalankan bisnis, serta menghadiri berbagai agenda publik. Pendidikan magister membutuhkan komitmen waktu untuk mengikuti perkuliahan, membaca literatur, melakukan penelitian, dan menyelesaikan tugas akademik. Tirta menyadari konsekuensi tersebut, tetapi tetap melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Ia berusaha menyesuaikan jadwal agar kegiatan profesional tidak mengganggu proses belajar.
Ketertarikannya terhadap sports science juga muncul di tengah semakin berkembangnya budaya olahraga di Indonesia. Lari, bersepeda, olahraga raket, latihan kebugaran, hingga berbagai kompetisi amatir semakin populer di kalangan masyarakat. Pertumbuhan tersebut membawa dampak positif karena semakin banyak orang mulai memperhatikan aktivitas fisik. Namun, peningkatan partisipasi juga diikuti risiko ketika seseorang berlatih tanpa memahami kapasitas tubuh. Cedera akibat penggunaan berlebihan, program latihan terlalu berat, dan pemulihan yang tidak memadai menjadi beberapa masalah yang dapat muncul ketika tren olahraga tidak diikuti pengetahuan yang cukup.
Dalam konteks tersebut, ilmu keolahragaan mempunyai peranan penting karena membahas tubuh manusia secara multidisiplin. Bidang ini dapat mencakup fisiologi olahraga, biomekanika, nutrisi, psikologi, kekuatan dan pengondisian, hingga analisis performa. Data dari berbagai aspek tersebut dapat digunakan untuk menentukan program latihan yang sesuai dengan karakter dan tujuan seseorang. Bagi atlet profesional, pendekatan ilmiah bahkan dapat menentukan perbedaan kecil yang berpengaruh terhadap performa dalam kompetisi. Sementara bagi masyarakat umum, pemahaman yang benar dapat membantu olahraga dilakukan secara aman dan berkelanjutan.
Tirta juga selama ini dikenal cukup vokal dalam meluruskan informasi kesehatan yang menurutnya tidak memiliki dasar ilmiah memadai. Melalui berbagai platform digital, ia kerap membahas tren kesehatan, pola makan, olahraga, suplemen, dan berbagai informasi yang beredar luas di masyarakat. Melanjutkan pendidikan formal dapat memberikan kesempatan baginya memperbarui pengetahuan sekaligus mempelajari perkembangan penelitian terbaru secara lebih sistematis. Dunia kesehatan dan olahraga terus berkembang sehingga tenaga medis dituntut mengikuti bukti ilmiah terbaru. Pendidikan menjadi salah satu jalur untuk mempertahankan kemampuan tersebut.
Rencana mengambil gelar S2 lagi juga menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan tidak selalu berhenti setelah seseorang memiliki profesi dan pekerjaan yang mapan. Tirta menilai proses belajar dapat terus dilakukan ketika seseorang menemukan bidang baru yang ingin dikuasai secara lebih serius. Gelar akademik bukan menjadi tujuan tunggal karena hal yang lebih penting adalah ilmu yang diperoleh dapat digunakan dalam praktik. Pendekatan tersebut membuat pendidikan lanjutan diposisikan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan, bukan sekadar tambahan identitas profesional. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh nantinya juga dapat dibagikan kembali kepada masyarakat.
Dalam bidang olahraga, kolaborasi antara dokter, pelatih, ahli gizi, fisioterapis, psikolog, dan ilmuwan olahraga semakin dibutuhkan. Setiap profesi mempunyai peranan berbeda dalam membantu atlet mencapai performa terbaik tanpa mengorbankan kesehatan. Latar belakang medis Tirta dapat menjadi salah satu keunggulan ketika mempelajari ilmu olahraga karena ia sudah memahami dasar anatomi, fisiologi, dan berbagai kondisi kesehatan. Namun, ilmu performa membutuhkan pendekatan tambahan yang tidak selalu diperoleh secara mendalam dalam pendidikan kedokteran umum. Alasan tersebut membuat pendidikan khusus di bidang olahraga dinilai relevan dengan arah yang ingin ditempuhnya.
Belum seluruh detail mengenai kampus maupun waktu dimulainya pendidikan tersebut diumumkan secara terperinci. Tirta masih mempersiapkan sejumlah hal sebelum kembali menjalani rutinitas sebagai mahasiswa. Ia juga harus mempertimbangkan format pendidikan yang memungkinkan aktivitas profesional tetap berjalan. Meski demikian, keinginannya untuk mengambil program magister kedua telah disampaikan sebagai salah satu rencana pendidikan berikutnya. Fokus yang dipilih tetap berkaitan dengan ilmu olahraga dan penerapannya terhadap kesehatan serta performa manusia.
Rencana Dokter Tirta kembali mengejar gelar S2 pada akhirnya berangkat dari keinginan memperdalam bidang yang semakin dekat dengan kehidupan dan aktivitas profesionalnya. Pengalaman sebagai dokter memberikan fondasi medis, sementara pendidikan sebelumnya memperkuat pemahaman mengenai pengelolaan layanan kesehatan. Ilmu olahraga diharapkan menjadi bagian berikutnya yang melengkapi perjalanan akademiknya. Dengan semakin banyak masyarakat Indonesia aktif berolahraga, kebutuhan terhadap edukasi berbasis bukti juga semakin besar. Tirta berharap pendidikan lanjutan tersebut nantinya dapat memperkuat kontribusinya dalam memberikan informasi mengenai olahraga, kebugaran, dan kesehatan secara lebih ilmiah kepada masyarakat.