Jakarta, 26 Mei 2026 – Gangguan operasional pada layanan KRL Commuter Line lintas Duri–Tangerang membuat banyak penumpang terpaksa mencari alternatif transportasi lain, termasuk menggunakan Kereta Bandara Soekarno-Hatta. Kondisi tersebut menyebabkan kepadatan penumpang di sejumlah stasiun setelah perjalanan KRL sempat terganggu pada jam sibuk.
Gangguan terjadi akibat kendala teknis pada perjalanan KRL yang melayani jalur Duri menuju Tangerang dan sebaliknya. Akibatnya, sejumlah perjalanan mengalami keterlambatan bahkan sempat tertahan di beberapa stasiun. Banyak penumpang yang khawatir terlambat bekerja atau kehilangan jadwal perjalanan akhirnya memilih berpindah menggunakan KA Bandara meski tarifnya lebih mahal dibanding KRL biasa.
Situasi di beberapa stasiun sempat dipenuhi penumpang yang mencari informasi terkait kelanjutan perjalanan. Petugas di lapangan berupaya mengatur arus penumpang dan memberikan pengumuman berkala mengenai kondisi operasional. Sebagian penumpang mengaku terpaksa mengeluarkan biaya tambahan demi memastikan tetap bisa sampai tujuan tepat waktu.
Pihak operator KRL menyatakan gangguan disebabkan masalah teknis yang memengaruhi perjalanan di lintas tersebut. Tim teknis langsung diterjunkan untuk melakukan penanganan dan memastikan layanan dapat kembali normal secepat mungkin. Setelah proses perbaikan dilakukan, perjalanan KRL secara bertahap mulai kembali berjalan meski sempat terjadi antrean dan kepadatan penumpang.
Peralihan penumpang ke KA Bandara juga membuat layanan kereta bandara mengalami peningkatan jumlah pengguna sementara waktu. Beberapa penumpang memanfaatkan rute bandara karena dinilai menjadi alternatif tercepat untuk menuju kawasan Tangerang maupun Jakarta ketika layanan KRL terganggu.
Kejadian ini kembali menunjukkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap transportasi rel di wilayah Jabodetabek. Pengamat transportasi menilai gangguan kecil pada jalur utama KRL dapat langsung berdampak besar terhadap mobilitas warga karena tingginya volume penumpang setiap hari. Karena itu, peningkatan keandalan sistem dan kesiapan layanan alternatif dinilai penting untuk mengurangi dampak gangguan operasional di masa mendatang.