Teheran, 3 Oktober 2026 – Pemerintah Iran mendesak Irak mencabut pembatasan penerbangan yang masih berlaku antara kedua negara setelah tekanan sanksi Amerika Serikat memukul konektivitas udara Teheran. Kementerian Luar Negeri Iran meminta Baghdad mengambil keputusan yang memungkinkan operasi normal maskapai kedua negara kembali berjalan. Teheran menyatakan tetap menghormati kedaulatan Irak, tetapi menilai pembatasan tersebut merugikan kepentingan bersama. Dampaknya disebut telah dirasakan ratusan ribu penumpang, termasuk peziarah, pasien, mahasiswa, dan pelaku usaha.
Pembatasan bermula setelah Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap sektor penerbangan Iran dan mengancam sanksi terhadap perusahaan maupun bandara yang memberikan layanan kepada maskapai Iran. Ancaman tersebut membuat penerbangan menuju sejumlah bandara Irak terganggu. Baghdad dan Najaf sempat menghentikan layanan penerbangan dari Iran, sementara pembatasan juga berdampak pada penerbangan menuju Erbil dan Sulaimaniyah. Pemerintah Irak kemudian membuka pembicaraan dengan Washington untuk memperoleh pengecualian bagi perjalanan tertentu.
Dampak kebijakan tersebut terasa cukup besar terhadap sektor penerbangan Iran. Data pemantauan penerbangan menunjukkan jumlah penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran sempat turun sekitar 42 persen setelah pembatasan diberlakukan. Sejumlah rute menuju Georgia, Oman, dan Azerbaijan terhenti, sementara konektivitas menuju negara lain juga berkurang. Kondisi tersebut semakin membatasi pilihan perjalanan internasional bagi masyarakat Iran.
Iran menuding Washington menggunakan sanksi sebagai bentuk tekanan ekonomi yang ikut mengganggu hubungan transportasi dengan negara lain. Teheran berpendapat hubungan dengan Irak mempunyai dimensi sejarah, agama, budaya, dan sosial yang kuat sehingga jalur transportasi seharusnya tetap dikelola berdasarkan kepentingan kedua negara. Pemerintah Iran juga meminta persoalan penerbangan ditangani melalui pendekatan yang independen dan bertanggung jawab. Amerika Serikat, di sisi lain, menyatakan kebijakan sanksinya ditujukan untuk membatasi sumber daya yang tersedia bagi pemerintah Iran.
Di tengah tekanan tersebut, terdapat perkembangan baru setelah penerbangan antara Iran dan Najaf mulai memperoleh ruang untuk beroperasi kembali. Pemerintah Irak mengumumkan maskapai Iran, kecuali Mahan Air, diperbolehkan mengoperasikan hingga 40 penerbangan setiap hari dari dan menuju Bandara Internasional Najaf. Kebijakan tersebut menjadi langkah penting untuk memulihkan sebagian konektivitas udara setelah layanan sebelumnya terganggu. Namun, pembukaan Najaf belum berarti seluruh pembatasan penerbangan Iran di Irak telah berakhir.
Iraqi Airways juga bersiap kembali melayani penerbangan menuju Iran setelah Baghdad mendapatkan pengecualian khusus dari Departemen Keuangan Amerika Serikat. Pengecualian tersebut pada tahap awal terutama berkaitan dengan layanan dari Najaf dan mencakup perjalanan untuk kepentingan ziarah, pengobatan serta pendidikan. Baghdad sebelumnya menawarkan sejumlah mekanisme pengawasan, termasuk pemeriksaan penumpang dan pertukaran informasi. Langkah itu dimaksudkan untuk memastikan layanan penerbangan tidak digunakan untuk membawa senjata, individu yang terkena sanksi, ataupun dana ilegal.
Meski akses melalui Najaf mulai terbuka, Iran tetap menginginkan pemulihan penuh penerbangan antara kedua negara. Pembatasan yang masih berlangsung membuat banyak penumpang harus menggunakan jalur darat dengan waktu perjalanan yang dapat mencapai belasan jam. Situasi tersebut juga memengaruhi arus peziarah yang selama ini menjadi bagian penting dari lalu lintas udara Iran-Irak. Teheran kini menunggu langkah Baghdad berikutnya untuk menentukan apakah konektivitas penerbangan dapat kembali seperti sebelum tekanan sanksi meningkat.